Jumat, 23 Oktober 2009

Askep Pioderma

PYODERMA

A. Pengertian
Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh kedua-duanya.

B. Etiologi
Penyebab yang utama ialah Staphylococcus aureus dan Staphylococcus B hemolitikus, sedangkan Staphylococcus epidermidis merupakan penghuni normal di kulit dan jarang menyebabkan infeksi.

C. Faktor Predisposisi
1. Higiene yang kurang
2. Menurunnya daya tahan
Misalnya: kekurangan gizi, anemia, penyakit kronik, neoplasma ganas, diabetes mellitus
3. Telah ada penyakit lain di kulit
Karena terjadi kerusakan di epidermis, maka fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

D. Klasifikasi
1. Pioderma Primer
Infeksi terjadi pada kulit yang normal. Gambaran klinisnya tertentu, penyebabnya biasanya satu macam mikroorganisme.
2. Pioderma Sekunder
Pada kulit telah ada penyakit kulit yang lain. Gambaran klinisnya tak khas dan mengikuti penyakit yang telah ada. Jika penyakit kulit disertai pioderma sekunder disebut impetigenisata, contohnya: dermatitis impetigenisata, scabies impetigenisata. Tanda impetigenisata ialah jika terdapat pus, kustul, bula purulen, krusta berwarna kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening regional, leukositosis, dapat pula disertai demam.



E. Bentuk Pyodema
Berbagai bentuk pioderma :
1. Impetigo
Impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis ). Terdapat 2 bentuk ialah impetigo krustosa dan impetigo bulosa.
2. Folikulitis
Merupakan radang folikel rambut yang biasanya disebabkan Staphylococcus aureus.
3. Furunkel / Karbunkel
Merupakan radang folikel rambut dan sekitarnya. Jika lebih dari pada sebuah disebut Furunkulosis, Karbunkel merupakan kumpulan Furunkel. Biasanya disebabkan oleh Stapyhlococcus aureus, keluhan biasanya nyeri.
4. Ektima
Ektima ialah ulkus superfisial dengan krusta di atasnya disebabkan infeksi oleh Streptococcus.

5. Pionika
Radang disekitar kuku oleh piokokus, disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan streptococcus B hemolyticus, biasanya didahului dengan trauma atau infeksi.
6. Erisipelas
Ialah penyakit infeksi akut, biasanya disebabkan oleh Streptococcus, gejala utamanya ialah eritema berwarna merah cerah, biasanya disebabkan oleh Streptococcus B hemolyticus.
7. Selulitis
Etiologi, gejala konstitusi, tempat predileksi, kelainan pemeriksaan laboratorik sama dengan erisipelas. Kelainan kulit berupa infiltrate yang difus di subkutan dengan tanda-tanda radang akut.
8. Flegmon
Merupakan selulitisyang mengalami supurasi. Terapinya sama dengan selulitis hanya ditambah insisi.
9. Ulkus Piogenik
Berbentuk ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas disertai pus di atasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh kuman negative-Gram, oleh karena itu perlu dilakukan kultur.

F. Px Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorik (darah tepi) terdapat leukositosis. Pada kasus yang kronis dan sukar sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi. Ada kemungkinan penyebabnya bukan stafilokokus melainkan kuman negative-Gram. Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, invivo tidak selalu sesuai dengan in vitro.

G. Penatalaksanaan
I. Pada pengobatan umum kasus pioderma , factor hygiene perorangan dan lingkungan harus diperhatikan.
II. Sistemik
Berbagai obat dapat digunakan sebagai pengobatan pioderma.
1. Penisilin G prokain dan semisintetiknya
a. Penisilin G prokain,
Dosisnya 1,2 juta/ hari, I.M. Dosis anak 10000 unit/kgBB/hari. Penisilin merupakan obat pilihan (drug of choice), walaupun di rumah sakit kota-kota besr perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya resistensi. Obat ini tidak dipakai lagi karena tidak praktis, diberikan IM dengan dosis tinggi, dan semakin sering terjadi syok anafilaktik.
b. Ampisilin
Dosisnya 4x500 mg, diberikan 1 jam sebelum makan. Dosis anak 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
c. Amoksisilin
Dosisnya sama dengan ampsilin, dosis anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Kelebihannya lebih praktis karena dapat diberikan setelah makan. Juga cepat absorbsi dibandingkan dengan ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.
d. Golongan obat penisilin resisten-penisilinase
Yang termasuk golongan obat ini, contohnya: oksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis kloksasilin 3 x 250 mg/hari sebelum makan. Dosis flukloksasilin untuk anak-anak adalah 6,25-11,25 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
2. Linkomisin dan Klindamisin
Dosis linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klindamisin diabsorbsi lebih baik karena itu dosisnya lebih kecil, yakni 4 x 300-450 mg sehari. Dosis linkomisin untuk anak yaitu 30-60 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis, sedangkan klindamisin 8-16 mg/kgBB/hari atau sapai 20 mg/kgBB/hari pada infeksi berat, dibagi dalam 3-4 dosis. Obat ini efektif untuk pioderma disamping golongan obat penisilin resisten-penisilinase. Efek samping yang disebut di kepustakaan berupa colitis pseudomembranosa, belum pernah ditemukan. Linkomisin gar tidak dipakai lagi dan diganti dengan klindamisin karena potensi antibakterialnya lebih besar, efek sampingnya lebih sedikit, pada pemberian per oral tidak terlalu dihambat oleh adanya makanan dalam lambung.
3. Eritromisin
Dosisnya 4x 500 mg sehari per os. Efektivitasnya kurang dibandingkan dengan linkomisin/klindamisin dan obat golongan resisten-penisilinase. Sering memberi rasa tak enak dilambung. Dosis linkomisin untuk anak yaitu 30-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.
4. Sefalosporin
Pada pioderma yang berat atau yang tidak member respon dengan obat-obatan tersebut diatas, dapat dipakai sefalosporin.
Ada 4 generasi yang berkhasiat untuk kuman positif-gram ialah generasi I, juga generasi IV.
Contohya sefadroksil dari generasi I dengan dosis untuk orang dewasa2 x 500 m sehari atau 2 x 1000 mg sehari (per oral), sedangkan dosis untuk anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
III. Topikal
Bermacam-macam obat topikal dapat digunakan untuk pengboatan pioderma. Obat topical anti mikrobial hendaknya yang tidak dipakai secara sistemik agar kelak tidak terjadi resistensi dan hipersensitivitas, contohnya ialah basitrasin, neomisin, dan mupirosin. Neomisin juga berkhasiat untuk kuman negatif-gram. Neomisin, yang di negeri barat dikatakan sering menyebabkan sensitisasi, jarang ditemukan. Teramisin dan kloramfenikol tidak begitu efektif, banyak digunakan karena harganya murah. Obat-obat tersebut digunakan sebagai salap atau krim.
Sebagai obat topical juga kompres terbuka, contohnya: larutan permangas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1% dan yodium povidon 7,5 % yang dilarutkan 10 x. yang terakhir ini lebih efektif, hanya pada sebagian kecil mengalami sensitisasi karena yodium. Rivanol mempunyai kekurangan karena mengotori sprei dan mengiritasi kulit.

H. Intervensi
I. Kerusakan integritas kulit
Definisi
Perubahan pada dermis dan epidermis
Faktor yang berhubungan
Hipertermi, kelembaban kulit, faktor mekanik, obat-obatan, radiasi, usia yang ekstrim, defisit imunologi, perubahan sensasi, perubahan status cairan, perubahan pigmentasi, perubahan sirkulasi.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .....X24jam pasien integritas kulit membaik dengan
NOC:
1. Tissue Integrity: Skin & mucous membran
Definisi: kelengkapan struktur dan fungsi fisiologi kulit dan membran mukosa
Indikator:
- Temperatur Jaringan sesuai yang diharapkan
- Sensasi sesuai yang diharapkan
- Elastisitas sesuai yang diharapkan
- Hidrasi sesuai yang diharapkan
- Pigmentasi sesuai yang diharapkan
- Perspirasi sesuai yang diharapkan
- Warna sesuai yang diharapkan
- Tektur sesuai yang diharapkan
- ketebalan sesuai yang diharapkan
- Bebas lesi jaringan
- Perfusi jaringan
- Pertumbuhan rambut pada kulit
- Kulit intake
Keterangan:
1 : sangat bermasalah
2 : bermasalah
3 : sedang
4 : sedikit bermasalah
5 : tidak bemasalah

NIC:
1. Skin kare Topikal
- Cegah penggunaan linen bertekstur kasar
- Hindarkan lesi dari manipulasi dan kontaminasi
- lakkan perawatan kulit secara aseptik 2 kali sehari
- Berikan terapi topikan sesuai program
- Berikan antibiotik/antiinflamasi sesuai program
- Anjurkan intake TKTP

II. Risiko Infeksi
Definisi:
peningkatan resiko masuknya organisme patogen
Faktor yang berhubungan:
prosedur infasif, trauma, kerusakan jaringan dan peningkatan paparan, malnutrisi, imunosupresi, tidak adekuat pertahanan primer (kerusakan kulit), tidak adekuat pertahanan sekunder ( penurunan Hb, leukopenia)
Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama ....X24jam tidak terjadi infeksi dengan
NOC :
1. Pengetahuan:Kontrol infeksi
Definisi: tingkat pengetahuan terhadap pencegahan dan kontrol infeksi
Indikator:
- Menerangkan cara-cara penyebaran infeksi
- Menerangkan factor-faktor yang berkontribusi dengan penyebaran
- Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
- Menjelaskan aktivitas yang dapat meningkatkan resistensi terhadap infeksi
Keterangan:
1 : tidak pernah
2 : terbatas
3 : sedang
4 : sering
5 : selalu

2. Status Nutrisi
Definisi: tingkat kebutuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan untuk metabolisme
Indikator:
- Asupan nutrisi
- Asupan makanan dan cairan
- Energi
- Masa tubuh
- Berat badan


Keterangan:
1 : sangat bermasalah
2 : bermasalah
3 : sedang
4 : sedikit bermasalah
5 : tidak bemasalah
NIC:
1. Kontrol Infeksi
Definisi:meminimalkan mendapatkan infeksi dan tranmisi agen infeksi
Intervensi:
- Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien
- Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
- Batasi jumlah pengunjung
- Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu
- Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat
- Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan
- Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah meninggalkan ruangan pasien
- Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
- Lakukan universal precautions
- Gunakan sarung tangan steril
- Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
- Lakukan teknik perawatan luka yang tepat
- Ajarkan pasien untuk pengambilan urin porsi tengah
- Tingkatkan asupan nutrisi
- Anjurkan asupan cairan yang cukup
- Anjurkan istirahat
- Berikan terapi antibiotik
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi
- Ajarkan pasien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi


III. Gangguan body image
Definisi:
Gangguan pada cara pandang seseorang menerima gambaran tubuhnya
Faktor yang berhubungan:
- psikososial
- biophisik
- perseptual
- penyakit
- trauma
- pembedahan
- perawatan penyakit
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ........X24jam pasien mampu menerima perubahan body image dengan
NOC:
1. Body image
Definisi: persepsi positif terhadap fungsi dan penampakan tubuh
Indikator:
- Gambaran diri internal
- mendiskripsikan bagian tubuh yang terpengaruh
- keinginan untuk menyentuh bagian tubuh
- puas terhadap penampakan tubuh
- puas terhadap fungsi tubuh
keterangan
1 : Tidak pernah positif
2 : jarang
3 : Kadang
4 : Sering
5 : selalu
NIC:
1. Body image Enhancement
Intervensi:
- Eksplore gambaran diri pasien, gali dari pasien maupun dari keluarga
- Gunakan antisipasi untuk meningkatkan gambaran diri
- Ajarkan pasien berbincang tentang perubahn yang terjadi setelah sakit
- Bantu pasien mengenali pengaruh teman terhadap persepsinya tentang gambaran diri
- Bantu pasien mengidentifikasi stresor yang mempengaruhi bodi image
- Monitor frekuensi pengucapan pasien mengkritik diri
- Tunjukkan bahwa perubahan pada tubuhnya tidak menghalangi fungsi bagian tubuh tersebut
- Berikan suport dan alternatif ungkapan positif tentang gambaran diri pasien
- Beri pujian atas ungkapan positif tentang gambaran diri pasien
- Libatkan orang-orang dekat dan bermajna dalam meningkatkan dukungan pada pasien
- Konsulkan ke psikolog untuk terapi psikis pasien








DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, Adi., et al. 2005. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Mansjoer, Arif., et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Ed.III,Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius, FKUI.
Menaldi,Sri Linuwih S. dan Wieke Triestianawati. Pioderma. Jakarta:Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, FKUI / RSCM. Avalable at df+definisi+pioderma&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. Diakses tanggal 10 September 2009.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran,EGC.

2 komentar: