Jumat, 23 Oktober 2009

Askep Skoliosis

SKOLIOSIS

A. Pengertian
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan. Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luar biasa pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan struktur penyokong tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya. Skoliosis ini biasanya membentuk kurva C atau kurva S.
Skoliosis adalah melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral. Skoliosis merupakan suatu kelainan yang menyebabkan suatu lekukan yang abnormal dari spine. Spine mempunyai lekukan2 yang normal ketika dilihat dari samping, namun ia harus nampak lurus ketika dilihat dari depan. Kyphosis adalah suatu lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine bengkok ke depan (maju). Lordosis adalah suatu lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine bengkok ke belakang. Orang2 dengan skoliosis mengembangkan lekukan2 tambahan ke setiap sisi, dan tulang2 spine melingkar pada masing2 seperti sebuah pencabut sumbat botol.
Skoliosis adalah sebuah kondisi lengkungan ke samping pada tulang belakang yang dapat merusak ruas2 spine kebanyakan anak2, remaja, dan orang dewasa. Spne manusia mempunyai banyak keistimewaan lengkungan2 alami yang membantu tubuh kita untuk bergerak dan menjadi fleksibel. Pada umumnya skoliosis dibagi atas dua kategori diantaranya adalah skoliosis struktural dan non struktural.
Skoliosis struktural: suatu kurvatura lateral spine yang irreversible dengan rotasi vertebra yang menetap. Rotasi vertebra terbesar terjadi pada apex. Jika kurva bertambah maka rotasi juga bertambah. Rotasi ini menyebabkan saat forward bending costa menonjol membentuk hump di sisi convex, sebaliknya dada lebih menonjol di sisi concav. Skoliosis struktural tidak dapat dikoreksi dengan posisi atau usaha penderita sendiri.

B. Etiologi
Skoliosis dibagi dalam dua jenis yaitu struktural dan non struktural.
v Skoliosis non struktural disebabkan oleh:
Tabiat yang tidak baik seperti membawa tas yang berat pada sebelah bahu saja (menyebabkan sebelah bahu menjadi tinggi), postur badan yang tidak bagus (seperti selalu membongkok atau badan tidak seimbang).
Kaki tidak sama panjang
Kesakitan, contohnya disebabkan masalah sakit yang dirasakan di belakang dan sisi luar paha, betis, dan kaki akibat kemerosotan atau kerusakan cedera di antara vertebra dan menekan saraf.
v Skoliosis struktural disebabkan oleh pertumbuhan vertebra yang tidak normal. Ciri2 fisiknya sbb:
Bahu tidak sama tinggi
Garis pinggang tidak sama tinggi
Badan belakang menjadi bongkok sebelah
Payudara besar sebelah
Sebelah pinggul lebih tinggi
Badan kiri dan kanan menjadi tidak simetris
Penyebab seseorang dapat mengalami skoliosis tidak dapat diketahui secara pasti. Penyebab seseorang dapat mengalami skoliosis bermacam2. ada yang disebabkan karena faktor genetik, neuromuskuler, dan ada pula yang idiopatik.
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu
Neuromuskuler, pengendalian oto yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut:
v Cerebral palsy
v Distrofi otot
v Polio
v Osteoporosis juvenil
Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.
Pada kebanyakan kasus2, penyebab dari skoliosis tidak diketahui (idiopatik). Tipe dari skoliosis ini digambarkan berdasarkan pada umur ketika skoliosis berkembang. Jika orang itu kurang dari 3 tahun umurnya, ia disebut infantile idiopathic scoliosis. Skoliosis yang berkembang antara umur 3 dan 10 tahun disebut juvenil idiopathic scoliosis, dan orang2 yang diatas 10 tahun umurnya mempunyai adolescent idiopathic scoliosis.
Ada 3 tipe utama lain dari skoliosis:
Functional: pada tipe skoliosis ini, spine normal, namun suatu lekukan abnormal berkembang karena suatu persoalan ditempat lain didalam tubuh. Ini dapat disebabkan oleh satu kaki adalah lebih pendek daripada yang lainna atau oleh kekejangan2 di punggung.
Neuromuscular: pada tipe ini, ada suatu persoalan ketika spine terbentuk. Baik tulang2 spine yang gagal untuk membentuk sepenuhnya, atau mereka gagal untuk berpisah satu sama lain. Tipe skoliosis ini berkembang pad aorang2 dengan kelainan lain termasuk kerusakan2 kelahiran, penyakit otot (muscular distrophy), cerebral palsy, atau penyakit marfan. Jika lekukan hadir waktu dilahirkan, ia disebut kongenital. Tipe skoliosis ini seringkali jauh lebih parah dan memerlukan perawatan yang lebih agresif daripada bentuk2 lain dari skoliosis.
Degenerative: tidak seperti bentuk2 lain dari skoliosis yang ditemukan pada anak2 dan remaja, degenerative scoliosis terjadi pada dewasa. Ia disebabkan oleh perubahan pada spine yang disebabkan oleh arthritis. Pelemahan dari ligamen2 dan jaringan2 lunak lain yang normal dari spine digabungkan dengan spur2 tulang yang abnormal dapat menjurus pada suatu lekukan dai spine yang abnormal.
Lain2: ada penyebab potensial lain dari skoliosis, termasuk tumor2 spine seperti steroid osteoma. Ini adalah tumor jinak yang dapat terjadi pada spine dan menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan orang2 untuk bersandar pada sisi yang berlawanan untuk mengurangi jumlah tekanan yang diterapkan pada tumor. Ini dapat menjurus pada suatu kelainan bentuk spine.

C. Tanda dan Gejala
Gejalanya berupa:
v Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
v Bahu dan/ pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
v Nyeri punggung
v Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
v Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60o) bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
Kebanyakan pada punggung bagian atas, vertebra membengkok ke kanan dan pada punggung bagian bawah, vertebra membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri.
Awalnya penderita mungkin tidak menyadari atau merasakan sakit pada tubuhnya karena memang skoliosis tidak selalu memberikan gejala2 yang mudah dikenali. Jika ada pun, gejala tersebut tidak terlalu dianggap serius karena kebanyakan mereka hanya merasakan pegal2 di daerah punggung dan pinggang saja. Skoliosis tidak menunjukan gejala awal. Kesannya hanya dapat dilihat apabila vertebra mulai bengkok. Jika keadaan bertambah buruk, skoliosis menyebabkan tulang rusuk tertonjol keluar dan penderita mungkin mengalami masalah sakit serta sukar bernafas. Dalam kebanyakan kondisi, skoliosis hanya diberi perhatian apabila penderita mulai menitikberatkan soal penampilan diri. Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, rata2 penderita malu dan rendah diri.
Skoliosis derajat ringan misalnya pembengkokan yang sedikit. Biasanya penderita tidak banyak mengeluhkan apa2, bahkan kadangkala orang sekitarnya yang merasa terganggu dengan struktur bengkok tersebut misalnya orang tua penderita, pasangan. Derajat pembengkokan biasanya diukur dengan cara Cobb dan disebut sudut Cobb. Dari besarnya sudut skoliosis dapat dibagi menjadi:
1. Skoliosis ringan: sudut Cobb kurang dari 20”
2. Skoliosis sedang: sudut Cobb antara 21 – 40”
3. Skoliosis berat: sudut Cobb lebih dari 41”
Pasa skoliosis derajat berat, hanya dapat diluruskan melalui operasi. Bukan saja operasi skoliosis merupakan salah satu operasi besar, tetapi juga dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya saja, di negara Ukraina, setelah operasi pasien harus berdiam di tempat tidur selama 6 bulan dengan dibalut gips. Penyembuhan paska operasi di Indonesia juga memakan waktu yang tidak sebentar. Di Jerman dengan metode baru yang dinamakan mobilisasi pasien setelh operasi memperlihatkan perbedaan teknik yang mencolok. 1hari setelah operasi, pasien diharuskan bergerak dan berusaha berdiri dengan dibantu ahli2 gymnastik untuk skoliosis. Hari kedua pasien diharuskan berjalan dengan dibantu ahli2 gymnastik dan tim rehabilitasi.

D. Prognosis
Prognosis tergantung pada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan. Semakin besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah masa pertumbuhan anak berlalu.
Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki prognosis yang baik dan cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain kemungkinan timbulnya sakit pinggang pada saat usia penderita semakin bertambah.
Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis yang baik dan bisa hidup scara aktif dan sehat.
Penderita skoliosis neuromuskuler selalu memiliki penyakit lainnya yang serius (misalnya cerebral palsy atau distrofi otot). Karena itu tujuan dari pembedahan biasanya adalah memungkinkan anak bisa duduk tegak pada kursi roda.
Bayi yang menderita skoliosis kongenital memiliki sejumlah kelainan bentuk yangmendasarinya, sehingga penanganannyapun tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali pembedahan.

E. Patofisiologi
Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari adanya syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang menarik ruas2 tulang belakang. Tarikan ini berfungsi untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yangnormal yang bentuknya seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal, diantaranya kebiasaan duduk yang miring, membuat sebagian syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini terus berulang menjadi kebiasaan, maka syaraf itu bahkan akan mati. Ini berakibat pada ketidakseimbangan tarikan pada ruas tulang belakang. Oleh karena itu, tulang belakang penderita bengkok atau seperti huruf S atau huruf C.

F. Pengobatan
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat, dan lokasi kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20”, biasanya tidak perlu pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan.
Pada anak2 yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30, karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk memperlambat progresivitas kelengkungan vertebra. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti.
Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskular. Jika kelengkungan mencapai 40 atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan.
Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang2. tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang Brace untuk menstabilkan tulang belakang. Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot vertebra dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan vertebra.

G. Penatalaksanaan
Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting:
1. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan
2. Mempertahankan fungsi respirasi
3. Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis
4. Kosmetik
Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih dikenal sebagai “the three O’s” adalah:
Observasi
Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu < 25o pada tulang yang masih tumbuh atau < 50o pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata2 tulang berhenti tumbuh pada saat usia 19 tahun.
Pada pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang punggung pada waktu tertentu. Foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke dokter. Lalu sekitar 6- 9 bulan berikutnya bagi yang derajat <>20.
Orthosis
Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama Brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah:
v Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 30 – 40o.
v Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25o.
Jenis dari alat orthosis ini antara lain:
v Milwaukee
v Boston
v Charleston bending brace
Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika digunakan secara teratur 23 jam dalam sehari hingga 2 tahun setelah menarche.
Operasi
Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pad skoliosis adalah:
v Terdapat derajat pembengkokan >50o pada orang dewasa
v Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40 – 45o pada anak yang sedang tumbuh
v Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis

H. Dx kep.
Nyeri kronik b.d ketidakmampuan fisik kronik
Isolasi sosial b.d gangguan penampilan fisik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar